![]() |
| Henoch : Berdiri di Tengah :) |
"Idealnya juri ayam laga ada 2-3 orang, tapi karena keterbatasan juri akhirnya cuma satu saja," kata Heno Kurniawan, juri PPAI.
Heno sudah menekuni juri ayan laga sejak dua tahun terakhir ini. Ada beberapa organisasi ayam laga di Indonesia tapi Heno cenderung pada Paguyuban Penggemar Ayan Laga Indonesia (PPAI) yang berpusat di Surabaya. Sehingga jasanya sering kali dipakai saat PPAI menggelar latihan bersama (latber) atau kontes.
Latar belakang Heno adalah peternak ayam laga dengan nama kandang Sidorejo Fighting Cock Farm di Krian. Berbekal pengetahuan tentang ayam laga itu akhirnya ia dipilih menjadi juri. Menurut Heno, ada beberapa jenis pukulan ayam yang menghasilkan nilai, yakni pukulan biasa (nilai 1), pukulan sakit (2), pukulan telak/KO (nilai 5).
"Ciri-ciri pukulan sakit itu pasti memberikan efek luka seperti kepalanya langsung terluka atau kulitnya mengelupas. Sedangkan pukulan telak memberi dampak pada ayam yang terpukul "kejiling" atau KO, TKO atau ayamnya bisa mati," jelas Heno. Hingga saat ini Heno mengaku tidak ada masalah meski harus menilai sedirian.
Keterbatasan SDM menjadi juri membuat dia harus bekerja sendirian. Selama ini PPAI menggunakan jasa juri dan botoh juri pro. Saat ini di PPAI ada sekitar 6-8 orang juri yang bila ada latber atau kontes semuanya dikerahkan menjuri. Kadang seorang juri harus menilai sampai beberapa partai sesuai dengan jumlahpeserta yang hadir.
Namun Heno mengaku tidak tahu persis apakah system penjurian PPAI sama dengan organisasi ayam laga lainya seperti Papaji. Untuk itu Heno menyarankan perlu adanya pertemuan antar organisasi untuk membahas bersama masalah penjurian ini agar dicapai suatu kesepakatan tentang penilaian penjurian.
"Saran saya perlu ada pelatihan juri sehingga ada pakem yang baku soal penjurian diseluruh organisasi ayam laga di Indonesia. Jadi meski ada beberapa organisasi ayam laga system penjuriannya sama sehingga penghobi ayam laga sudah tahu persis system penilaiannya,"nujar Heno.
Dalam dunia tinju profesional, meski ada beberapa badan tinju seperti WBA,WBC, IBF, WBO dan lain sebagainya penjuriannya sama semua. "Seiring berjalannya waktu kekurangan-kekurangan ini akan terus kita perbaiki," kata Heno sambil mengatakan, dari sisi kualitas ayam lokal Indonesia tidak kalah dengan ayam impor Bangkok atau lainnya.
"Kadang ayam Bangkok hanya menang label saja ketika dites dengan ayam lokal kualitasnya sama saja," imbuhnya.
Sumber : Media Ayam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar